Ada yang menarik ketika mengamati kantin sekolah atau warung di sekitar sekolah pada tahun 2026 ini. Dalam hitungan hari, satu jenis jajanan bisa ludes terjual hanya karena viral di media sosial. Siswa berbondong-bondong mencarinya, mengantri, bahkan rela merogoh uang saku lebih dalam demi mencoba. Fenomena siswa mudah terpicu ikut-ikutan tren jajanan viral bukan sekadar soal selera makan — ini bicara soal psikologi, lingkungan belajar, dan dinamika sosial remaja yang jauh lebih kompleks dari yang kita kira.
Coba bayangkan seorang siswa kelas delapan yang setiap hari melihat teman-temannya membawa minuman boba keju atau keripik pedas berlevel sambil tertawa bareng. Ia yang belum mencoba merasa seperti ketinggalan sebuah “momen sosial”, bukan sekadar jajanan. Perasaan inilah yang menjadi pemicu utama. Bukan karena lapar, bukan karena tertarik rasanya, tapi karena ingin merasa bagian dari kelompok.
Menariknya, pola ini bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Guru BK, psikolog sekolah, hingga peneliti perilaku remaja sudah lama mencatat bahwa kecenderungan konformitas — atau keinginan menyesuaikan diri dengan kelompok — mencapai puncaknya justru di usia sekolah menengah. Yang berubah hanyalah mediumnya: dulu dari mulut ke mulut, sekarang melalui short video dan fitur “trending” di berbagai platform.
Kenapa Siswa Sangat Rentan Terhadap Tren Jajanan Viral
Dunia remaja adalah dunia di mana pengakuan sosial terasa seperti kebutuhan primer. Jajanan viral bukan sekadar makanan — ia adalah simbol. Membawa atau memakan jajanan yang sedang tren memberi sinyal ke teman sebaya: “Aku update, aku relevan, aku bagian dari kalian.”
Otak Remaja dan Respons Terhadap Tekanan Sosial
Secara neurologis, otak remaja masih dalam tahap perkembangan, khususnya bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan rasional. Bagian ini belum sepenuhnya matang hingga usia sekitar 25 tahun. Akibatnya, respons emosional dan dorongan sosial lebih mendominasi. Ketika teman menunjukkan jajanan viral dengan ekspresi kagum, otak remaja memproses ini sebagai “peluang afiliasi sosial” — bukan sebagai iklan makanan biasa. Tidak sedikit yang merasakan kecemasan ringan jika tidak ikut mencoba, seolah ada risiko dikucilkan.
Peran Konten Pendek dalam Membentuk Keinginan
Platform video pendek yang kini makin canggih di 2026 menggunakan algoritma yang sangat presisi dalam menyodorkan konten sesuai minat. Seorang siswa yang satu kali menonton review jajanan baru, dalam hitungan jam akan dibanjiri konten serupa. Ini menciptakan efek perceived popularity — jajanan itu terasa populer karena terus-menerus muncul, padahal belum tentu sebesar itu di dunia nyata. Cara algoritma bekerja inilah yang memperkuat dorongan untuk mencoba, jauh sebelum si siswa sempat berpikir soal harga atau kandungan gizinya.
Dampak Nyata di Lingkungan Sekolah dan Pembelajaran
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ada dampak yang langsung terasa di dalam kelas maupun di luar jam belajar, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu memahami konteks ini.
Ketimpangan Sosial yang Tak Kasat Mata
Tidak semua siswa punya uang saku yang sama. Ketika tren jajanan viral terus bergulir, siswa dari keluarga kurang mampu bisa mengalami tekanan sosial yang diam-diam menggerus kepercayaan diri mereka. Banyak orang mengalami ini: merasa minder bukan karena prestasi akademik, tapi karena tidak bisa membeli jajanan yang sama dengan teman-temannya. Ini adalah persoalan pendidikan karakter dan inklusi sosial, bukan sekadar urusan kantin.
Pengaruh Terhadap Kebiasaan Makan dan Fokus Belajar
Jajanan viral cenderung tinggi gula, garam, dan pewarna. Konsumsi berlebihan secara konsisten bisa mempengaruhi konsentrasi belajar. Guru-guru di beberapa sekolah melaporkan bahwa siswa yang rutin mengonsumsi camilan ultra-proses tampak lebih mudah kehilangan fokus di jam pelajaran siang. Tips sederhana yang bisa diterapkan: sekolah bisa mulai mengedukasi siswa tentang label gizi sebagai bagian dari literasi konsumen, bukan sebagai larangan yang kaku.
Kesimpulan
Fenomena siswa mudah terpicu ikut-ikutan tren jajanan viral adalah cermin dari kebutuhan dasar remaja akan penerimaan sosial, diperkuat oleh teknologi yang memang dirancang untuk menciptakan keinginan. Memahami ini bukan berarti menyalahkan siswa, melainkan memberi kita — orang tua, guru, dan sekolah — sudut pandang yang lebih jernih untuk merespons dengan tepat.
Pendekatan yang efektif bukan melarang keras, tapi membangun literasi kritis sejak dini: mengajarkan siswa untuk mempertanyakan “kenapa aku mau ini, karena memang suka atau karena takut ketinggalan?” Pertanyaan sederhana itu, jika dibiasakan, bisa menjadi fondasi pengambilan keputusan yang sehat — tidak hanya soal jajanan, tapi untuk seluruh aspek kehidupan mereka ke depan.
FAQ
Apakah ikut-ikutan tren jajanan viral selalu berdampak negatif bagi siswa?
Tidak selalu. Mencoba jajanan baru bisa menjadi pengalaman sosial yang menyenangkan dan mempererat pertemanan. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi, anggaran, dan kandungan gizi dari jajanan tersebut agar tidak berdampak buruk pada kesehatan maupun kondisi keuangan keluarga.
Bagaimana cara orang tua menyikapi anak yang terus-menerus ingin membeli jajanan viral?
Alih-alih langsung melarang, coba ajak anak berdiskusi terbuka tentang alasan di balik keinginannya. Tanyakan apakah ia benar-benar ingin mencobanya atau merasa tertekan oleh teman. Pendekatan berbasis dialog jauh lebih efektif dibanding larangan sepihak yang justru bisa memicu penolakan.
Apa yang bisa dilakukan sekolah untuk menyikapi tren jajanan viral di lingkungan belajar?
Sekolah bisa mengintegrasikan literasi konsumen ke dalam mata pelajaran seperti IPA atau PKn, mengajarkan siswa cara membaca kandungan gizi dan memahami strategi pemasaran. Selain itu, menyediakan pilihan jajanan sehat yang menarik di kantin sekolah bisa menjadi contoh nyata bahwa makanan bergizi pun bisa tampil “kekinian”.






